![]() |
Ada pemandangan menarik dan menginspirasi di sudut ruang kelas VI SD Negeri 1 Sojokerto pada Selasa (29/9/2026) pagi. Keterbatasan sarana laptop yang mengharuskan pelaksanaan asesmen Try Out Tes Kompetensi Akademik (TKA) dibagi menjadi dua sesi, rupanya tidak membuat waktu terbuang sia-sia.
Di saat sebagian teman mereka tengah fokus mengerjakan soal di sesi pertama, anak-anak yang tergabung dalam jadwal sesi kedua (pukul 09.00 - 10.30 WIB) tampak duduk tenang. Tanpa pengawasan ketat maupun instruksi berulang dari guru, mereka berinisiatif membuka modul dan buku catatan masing-masing. Anak-anak ini menciptakan pengalaman belajar secara natural dengan berlatih soal-soal numerasi secara mandiri maupun berdiskusi kecil dengan teman sebangkunya.
Bukti Nyata Karakter 'Mandiri' dan 'Ulet'
Pemandangan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah manis dari proses memuliakan murid yang selama ini diterapkan secara humanis oleh para pendidik. Murid-murid telah memiliki kesadaran internal bahwa asesmen bukanlah beban yang harus ditakuti, melainkan sarana untuk melihat perkembangan kemampuan nalar dan logika matematika mereka.
Lebih jauh, inisiatif belajar tanpa disuruh ini adalah perwujudan paling otentik dari pilar 'Mandiri' dan 'Ulet' dalam filosofi Kurikulum TUMBUH. Murid membuktikan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas tanggung jawab belajarnya sendiri (Mandiri), serta pantang menyerah memanfaatkan setiap menit yang ada demi mempersiapkan diri sebaik mungkin (Ulet).
Alih-alih mengeluhkan sistem giliran (shifting), murid SD Negeri 1 Sojokerto justru meresponsnya dengan budaya positif. Ketangguhan mental dan kemandirian inilah yang kelak menjadi bekal paling berharga bagi mereka saat melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
.png)