![]() |
| Suasana kegiatan KKG Guru Bahasa Inggris di SD N 1 Jonggolsari pada Sabtu (29/8/2026) |
Sabtu, 29 Agustus 2026, rutinitas akhir pekan di SD N 1 Jonggolsari berubah menjadi ruang tukar gagasan yang hangat. Para pendidik berkumpul bukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban administratif, melainkan duduk bersama dalam forum Kelompok Kerja Guru (KKG) Bahasa Inggris. Di tengah forum tersebut, Ratna Moneta Fitriyani, S.Pd., mengambil peran penting untuk membagikan praktik baik yang telah diupayakannya di ruang kelas.
Kehadiran Ibu Ratna dalam kegiatan berbagi inovasi ini bukanlah hal yang mengejutkan. Di SD Negeri 1 Sojokerto, selain beliau bertugas sebagai Guru Kelas 2 juga mengampu guru Bahasa Inggris untuk kelas 2 dan 3. Lebih dari itu, beliau juga merupakan Sekretaris Komunitas Belajar (Kombel) TUMBUH
Peer Teaching
Dalam pertemuan tersebut, materi utama yang disajikan berfokus pada praktik baik pendekatan Peer Teaching atau tutor sebaya. Metode ini menempatkan peserta bukan sebagai pendengar pasif, melainkan sebagai subjek aktif yang bertumbuh melalui interaksi sosial.
Dalam praktiknya, Peer Teaching mengajak para peserta belajar untuk saling membantu, berdiskusi, dan memecahkan tantangan kebahasaan bersama yang dialami di kelasnya masing-masing. Berdasarkan informasi yang dipaparkan dalam forum, pendekatan ini sangat efektif untuk mencairkan ketegangan yang sering kali muncul saat anak belajar bahasa asing. Saat mereka belajar dari temannya sendiri, proses memuliakan murid terjadi secara alami, rasa percaya diri meningkat, dan kecemasan perlahan memudar.
![]() |
| Semangat belajar dan berbagi antar-pendidik menjadi kunci utama dalam merancang pengalaman belajar yang menyenangkan dan berpusat pada murid. |
Membawa Semangat TUMBUH ke Luar Pagar Sekolah
Keputusan untuk membagikan metode pengajaran ke sekolah-sekolah lain sangat selaras dengan filosofi nilai TUMBUH yang diusung oleh SD Negeri 1 Sojokerto. Dua nilai yang sangat menonjol dari kegiatan ini adalah "Ulet Berinovasi" dan "Berbagi Praktik Baik"
Praktik baik yang terkurung di satu kelas hanya akan menjadi keberhasilan individu. Namun, ketika gagasan itu disebarluaskan di ruang KKG, dampaknya dapat dirasakan oleh puluhan ruang kelas lainnya. Kolaborasi antar-guru ini menjadi bukti bahwa ekosistem pendidikan yang tangguh dibentuk dari kemauan untuk saling mendengarkan dan mendukung.
Pada akhirnya, guru yang aktif belajar dan berbagi di luar sekolah akan selalu membawa energi segar saat kembali ke kelasnya. Perkembangan murid akan selalu beriringan dengan seberapa luas wawasan dan hati gurunya dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

